Suara yang terulis

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu. Salam perjuangan teman-teman mahasiswa, panjang umur intelektual mahasiswa.

Terkhusus untuk teman-teman mahasiswa se-Universitas Negeri Makassar (UNM) mudah-mudahan masih senantiasa dengan kekritisannya.  UNM hari ini, pertama-tama dalam tulisan ini saya mengajak teman-teman untuk membaca tulisan ini sampai selesai karena yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah hal-hal yang menurut saya sebuah masalah bersama untuk kita semua mahasiswa UNM hari ini dan tentu harus pula dibahas serta diselesaikan bersama. Nah… saya ingin bertanya, pertanyaan saya sederhana, mungkin teman selalu menjumpai pertanyaan ini, entah itu dari senior ataupun teman angkatan, “Apakah pembayaran UKT sebanding dengan apa yang anda dapatkan dan rasakan di kampus?” Begitulah pertanyaan saya. Dari awal saya terdaftar sebagai mahasiswa di kampus yang bernama UNM dan membuat saya terharu-biru dan senang karena dapat berpijak di Perguruan Tinggi Negeri sekelas UNM, singkat cerita fakta tersebut dipatahkan dengan realitas yang saya rasakan di kampus UNM hari ini.

Berangkat dari fasilitas kampus, sarana dan prasarana kampus yang tidak mendukung. Seperti ruang kelas yang ribut dan berdebu dengan kipas angin tornadonya, AC yang tinggal jadi pajangan barang baru antik, belum lagi kaca jendela yang pecah, bangku kelas yang rusak dengan paku mengangah, ditambah parkiran kampus bila datang panas maka panaslah kenderaan, bila datang hujan maka basahlah kendaraan mahasiswa. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan diantaranya “Mengapa kampus perguruan tinggi sekelas UNM fasilitas dan sarananya demikian?”, menjadi tanya besar untuk teman-teman, atau mungkin bolehlah kita bandingkan dengan sarana & fasilitas kampus-kampus PTN atau Swasta yang lain khususnya yang ada di Makassar, teman-teman bisa bertanya mungkin dengan sahabat atau kerabat yang juga sesama mahasiswa.

Menyimak dari hal tersebut di atas yang jika menurut teman-teman adalah sebuah masalah dan timbul lagi sebuah pertanyaan “kalau seperti itu siapa yang harus menanggulangi dan menuntaskan masalah tersebut?”. Mohon maaf untuk Ayahanda Petinggi kampus dari pejabat Universitas, Fakultas serta Dosen. Saya adalah mahasiswa yang tidak banyak protes, saya juga bukan tukang kritik, namun saya mewakili teman-teman yang hampir tial harinya mencurahkan isi hatinya dan meresahkan apa yang ia rasakan di dalam kampus sebagai mahasiswa civitas akademik UNM, saya hanyalah sebagai jembatan atau penyambung suara dari teman-teman saya yang juga merasakan bahwa UNM hari ini sedang tidak baik-baik saja. Menurut saya penyelesaian masalah tersebut harus dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari hal yang paling kecil, ketika teman-teman takut untuk memilih aksi demonstrasi seperti aksi-aksi yang turun di jalanan dan diterpa panas terik matahari sampai memblokade jalanan, cobalah teman-teman memilih alternatif lain yang tidak sampai lelah, letih dan kerongkongan kering karena berkoar-koar dengan teriakan dahsyat. “Banyak jalan menuju roma” begitu pula meneriakkan kebenaran, begitu banyak cara. Diantaranya adalah menulis.

Teman-teman Mahasiswa, cobalah lawan dan suarakan keadilan untuk UNM hari ini mulailah dari hal-hal yang paling mendasar untuk kita jadikan pondasi dalam pergerakan kita kedepannya, hari ini dan seterusnya. “Diam tertindas atau bangkit melawan, tidak perlu takut! Karena selama ketakutan masih ada di dalam dirimu selama itu pula kebodohan selelu menemanimu karena ketakutan berbanding lurus dengan kebodohan.

Akhir kata, panjang umur intelektual mahasiswa dan SALAM LITERASI.
WASSALAM.